Obsesi Kapolri Jendral Tito Karavian Jadi Pengajar dan Peneliti

Jakarta : Kapolri Jenderal Muhammad Tito Karnavian resmi dikukuhkan menjadi Profesor di bidang ilmu Kepolisian studi strategis kajian kontra terorisme di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK)pada tanggal 26 Oktober kemarin yang bersamaan dengan Ulang Tahun Pak Tito.

 

Pak Tito mengatakan, jika nanti sudah pensiun dari Kepolisian Republik Indonesia, berencana menjadi pengajar di luar negeri maupun di dalam negeri.

Jabatan guru besar di bidang ilmu Kepolisian studi strategis kajian kontra terorisme ini, lanjut Tito, sengaja dipersiapkan oleh dirinya.

 

“Siap-siap kalau sudah pensiun. Karena saya suka di bidang pendidikan, enggak perlu lari ke sana ke mari. Saya bisa jadi pengajar baik di dalam negeri, dan lebih utama saya obsesinya jadi pengajar di luar negeri, jadi peneliti di luar negeri. Karena supaya saya memiliki jangkauan global, tidak hanya sekadar jangkauan di dalam negeri saja,” kata Tito di Auditorium STIK-PTIK, Jakarta Selatan, Kamis 26 Oktober 2017.

 

Pak Tito sudah mempersiapkan persyaratan sejak lama agar bisa memiliki gelar guru besar. Di antara persiapan itu, Tito sering menulis buku dan jurnal internasional, yang diterbitkan oleh penerbit nasional maupun penerbit terkemuka di dunia.

 

Pak Tito juga aktif mengikuti seminar, konferensi di tingkat Internasional maupun nasional. Selain itu, dia sudah sering menjadi pembicara, memberi keynote speech, serta kuliah umum di dalam maupun luar negeri. Pengalaman empirik bertugas di bidang penanganan teroris sejak tahun 1999 itu menjadi nilai tambah bagi Profesor Tito.

 

“Sejak 2000 saya sudah ngajar di PTIK, UI, Nanyang Technological University (di Singapura). Tetapi ini juga berdasarkan pengalaman empirik saya, karena saya bertugas di bidang teroris sejak 99. Selain itu saya ikut sekolah formal dan kursus mulai di Amerika, Inggris, Australia, Singapura dan studi banding di banyak negara,” ujarnya.

 

Tito merasa dunia pendidikan atau dunia akademis membuatnya lebih tenang dan bisa mengatur ritmenya sendiri, sehingga hobi itu bisa tersalurkan.

 

“Keinginan saya obsesi saya jadi pengajar di tingkat internasional karena kebetulan saya di bidang terorisme ini adalah akademisi sekaligus praktisi. Jadi saya pikir saya memiliki pengalaman, pengetahuan sistematis dari keakademisan, tapi juga memiliki pengetahuan di bidang empirik, itu berdasarkan pengalaman,” ucapnya.

 

 

 

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Bhayangkara FC di Atas Kertas Juara Liga 1

Bhayangkara FC kembali mengambil alih puncak klasemen GO-JEK TRAVELOKA LIGA 1 2017. Ini menyusul kemenangan Bhayangkara FC atas Persela Lamongan, di Stadion Patriot, Kota Bekasi, Jumat (27/10/2017).

Dalam pertandingan yang berlangsung ketat, Bhayangkara FC mengalahkan Persela dengan skor 3-1. Kemenangan ini membawa Bhayangkara FC naik kembali ke puncak klasemen sementara, setelah sebelumnya disalip PSM Makassar.

Tiga gol Bhayangkara FC ke gawang Persela masing-masing dicetak oleh Ilija Spasojevic pada menit ke-28, Otavio Dutra menit ke-53, dan penalti Guy Junior menit ke-90+1. Persela hanya mampu mencetak 1 gol hiburan lewat penalti Samsul Arif pada menit ke-62.

Pertandingan berlangsung seperti kurang seimbang. Bhayangkara FC mampu mendominasi permainan. Penguasaan bola mutlak dikendalikan skuat Bhayangkara FC yang dilatih Simon McMenemy. Hasilnya tiga gol berhasil disarangkan para pemain tim diinisiasi Polri tersebut.

Skuat Bhayangkara FC pun memiliki kepercayaan diri untuk melanjutkan perburuan gelar juara kompetisi musim ini. Dengan 62 poin dan memiliki sisa 3 pertandingan, langkah Bhayangkara FC untuk menjadi juara relatif lebih besar dari tim lainnya.

Sementara kekalahan Persela ini tidak mengubah posisi tim yang dilatih Aji Santoso. Persela sudah dipastikan aman bertahan di kompetisi kasta tertinggi.

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

SBY Temui Lagi Jokowi di Istana Merdeka

Jakarta – Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menyambangi Istana Merdeka, Jumat (27/10) siang ini. Kehadiran SBY cukup mengejutkan sebab tidak masuk jadwal resmi Presiden Joko Widodo.

Berdasarkan pantauan, sekitar pukul 14.10 WIB, Jokowi dan SBY telah duduk di Beranda Istana Merdeka.

Mereka duduk bersama sambil bercengkrama hangat. Petugas sempat mengantarkan teh bagi Jokowi dan SBY.

Jokowi terlihat mengenakan setelan jas hitam, kemeja putih, dan dasi merah layaknya acara resmi atau kenegaraan. Sementara itu, SBY mengenakan batik cokelat lengan panjang.

Ini menjadi yang kedua kalinya Jokowi dan SBY minum teh bersama di Istana. Kesempatan pertama terjadi ketika Jokowi mengundang hampir seluruh ketua umum partai politik ke Istana, salah satunya adalah SBY pada 9 Maret.

Mereka saat itu berbicara mengenai menjaga kedamaian bermasyarakat saat pesta demokrasi. SBY juga menyarankan membentuk Klub Presiden.

Belum diketahui apa topik yang dibahas Jokowi dan SBY dalam pertemuan hari ini. Namun, dalam beberapa hari terakhir, hubungan Partai Demokrat dan pemerintah cukup mendapat sorotan setelah ikut mendukung pengesahan Perppu Ormas menjadi Undang-undang.

Meski mendukung, namun Demokrat mengajukan catatan agar pemerintah segera merevisi Undang-undang Ormas.

Sumber

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Dramatis, Kisah Brimob Kalimantan Selamatakan Nyawa Karyawan Pabrik Petasan

JAKARTA— Proses penyelamat karyawan pabrik petasan dan kembang api di Tangerang tidak lepas dari bantuan cepat 100 BKO Brimob Polda Kalimantan Barat.

Mereka dipimpin AKBP Raymond M Masengi. » Read more

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

KAPOLRI DIKUKUHKAN SEBAGAI GURU BESAR BIDANG ILMU KEPOLISIAN STIK-PTIK, STUDI STRATEGIS KAJIAN KONTRA TERORISME


Jakarta : Jenderal Polisi Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, MA., Ph. D yang saat ini menjabat sebagai Kapolri, dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kepolisian Studi Strategis Kajian Kontra Terorisme di STIK – PTIK bertempat di Auditorium STIK (26/10/2017).

Acara pengukuhan dilakukan dalam sidang Senat Terbuka dipimpin oleh Gubernur selaku Ketua STIK-PTIK Irjen Pol. Dr. Remigius Sigid Tri Harjanto, SH., M.Si. pernyataan pengukuhan dilakukan oleh Irjen Pol. Prof. Dr. Iza Fadri, SH., MH., selaku perwakilan guru besar pada senat akademik, yang juga dihadiri oleh Menteri Ristek Dikti Prof. Dr. Mohammad Nasir.

Dengan bertambahnya Guru Besar Ilmu Kepolisian di STIK-PTIK, diharapkan semakin menjadikan Ilmu Kepolisian menjadi ilmu terbuka yang mampu memberikan solusi bagi kepentingan keilmuan maupun kepentingan praktis dalam kaitan dengan tugas-tugas kepolisian, yaitu pemeliharaan kamtibmas, penegakan hukum, serta perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.

“Apalagi Profesor Tito Karnavian dikukuhkan sebagai guru besar untuk studi strategis kajian kontra terorisme, sehingga di harapkan pemikiran-pemikiran beliau nanti dapat diaplikasikan bagi kepentingan bangsa Negara Indonesia, khususnya dalam menghadapi ancaman terorisme.
Keputusan Seorang Tito Karnavian sebagai Profesor/Guru Besar telah ditandatangani oleh Menristekdiktif Prof Dr. Mohamad Nasir dengan Surat Keputusan Nomor 98876/A2.3/KP/2017 tanggal 19 Oktober 2017.
Proses pengurusan jabatan akademik tertinggi menjadi Guru Besar ini, memakan waktu cukup lama dan telah melalui prosedur yang ditentukan berdasarkan undang-undang.

Proses administrasi untuk pengusulan jabatan akademik guru besar ini secara intensif telah dilakukan sejak awal bulan Juli 2017, setelah sebelumnya dilakukan inventarisasi karya-karya akademik dan verifikasi atas kegiatan ilmiah dan karya tulis beliau untuk dijadikan sebagai bagian dari syarat pengurusan jabatan akademik guru besar.

Sesuai dengan peraturan Mendikbud Nomor 88 tahun 2013 tentang Pengangkatan Dosen Tidak Tetap dalam Jabatan Akademik pada Perguruan Tinggi Negeri, pada Pasal 2 ayat (1) disebutkan, bahwa Menteri dapat menetapkan dosen tidak tetap pada perguruan tinggi negeri yang memiliki kompetensi luar biasa untuk diangkat dalam jabatan akademik Professor berdasarkan usulan dari Perguruan Tinggi dan rekomendasi dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

Muhammad Tito Karnavian dilahirkan di Palembang pada tanggal 26 Oktober 1964. Setelah tamat SMA di Palembang ia diterima di Akademi Kepolisian dan lulus tahun 1987 sebagai penerima Bintang Adhi Makayasa, penghargaan yang diberikan bagi lulusan terbaik Akademi Kepolisian. Penugasan pertama di Polda Metro Jaya sebagai perwira reserse. Tahun 1992 mendapat bea siswa dari The British Council untuk program Master in Police Studies. Sistem pendidikan di Inggris yang tidak mengenal SI seperti di Indonesia memungkinkannya untuk mengikuti program S2 di University of Exeter, Inggris dan lulus dengan gelar MA di tahun 1993. Tahun 1994- 1996 Tito mengikuti pendidikan kedinasan PTIK dan lulus sebagai peserta terbaik. Pada tahun 1998 tawaran dari pemerintah New Zealand kepada Polri untuk program Sesko ia peroleh dan lulus sekaligus menyandang BA dalam bidang Strategic Studies, karena kerjasama Sesko New Zealand dengan Massey University, salah satu universitas ternama di negara itu. Pada tahun 2000, Tito mengikuti program penyamaan Sesko luar negeri di Sespimpol Lembang Bandung.

Setelah itu Tito banyak bertugas di jajaran reserse Polda Metro Jaya dan Sulawesi Selatan, serta Kapolres di Serang, Banten. Pada tahun 2005-2007 ia memimpin operasi kontra terorisme di Poso Sulawesi Tengah. Operasi ini sukses menangkap puluhan tersangka, mengungkap puluhan kasus kekerasan dan jaringan radikal yang beroperasi disana. Pengalaman ini membuahkan buku “Indonesian Top Secret” terbitan Gramedia yang ditulis Tito dan rekan-rekannya dalam operasi tersebut.

Pada tahun 2008, Tito mendapat beasiswa pada program PhD bidang Strategic Studies yang merupakan anak cabang dari disiplin ilmu Politik Internasional di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) di Nanyang Technological University (NTU) Singapore. NTU merupakan universitas yang masuk dalam kategori 100 universitas terbaik dunia dan 20 besar universitas terbaik di Asia. Sedangkan RSIS sendiri masuk dalam kategori 50 think-tank terbaik di dunia dan nomor 3 di Asia.

Tertarik dengan dunia terorisme dan insurgensi, Tito menulis disertasi tentang Insurgensi Islamis yang masih belum banyak diekslorasi dalam literatur Strategic Studies, dengan studi kasus gerakan al Jamaah al Islamiyyah. Pada bulan April 2013 ia berhasil mempertahankan disertasinya dan memperoleh gelar PhD dengan penghargaan 2nd Class Upper (setingkat Magna Cum Laude dengan GPA 4.25) pada 8 Mei 2013. Tahun 2011 Tito juga menyelesaikan pendidikan Lemhannasnya dengan predikat penerima Bintang Seroja lulusan terbaik.

Pernah menjabat sebagai Kadensus 88 Anti Terorisme, Deputi Penindakan pada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Kapolda Papua, Asisten Kapolri Bidang Perencanaan dan Anggaran, Kapolda Metro Jaya. Pada tanggal 13 Juli 2016 dilantik oleh Presiden Joko Widodo menjadi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

 

Sumber : DIVHUMAS POLRI

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube
1 37 38 39 40