Kapolri: Mari Kita Bergandengan Tangan Bersama

Bandung – Kapolri Jenderal Pol. Muhammad Tito Karnavian hadir dalam acara silaturahim akbar keluarga besar Ormas Persatuan Islam (Persis), di Monumen Perjuangan, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (24/2).

Acara yang diikuti oleh puluhan ribu massa Persis ini disemarakkan oleh pertunjukan seni bela diri, teatrikal, dan paduan suara. Selain pimpinan Persis, tampak hadir antara lain Kapolda Jawa Barat Irjen Agung Budi Maryoto, Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol Mohammad Iqbal, serta pejabat Pemkot Bandung dan Pemprov Jawa Barat.

Dalam pidatonya di depan para kader Persis, Kapolri Tito Karnavian mengajak seluruh organisasi Islam agar memberikan kontribusi dalam memperkokoh persatuan bangsa dan mengisi kemerdekaan yang dulu diperjuangkan oleh umat Islam, termasuk Persis.

“Polri, pemerintah, dan Persis perlu bergandengan tangan dengan segenap warga yang lain, warga Islam yang lain, warga Indonesia yang lain, termasuk dengan para Umaro. Mari kita bergandengan tangan bersama,” kata Tito.

Indonesia, menurut Kapolri, perlu merajut persatuan dan kesatuan dalam kerangka Kebhinnekaan. Jangan sampai Indonesia pecah dan tercerai berai seperti yang dialami Uni Soviet dan beberapa negara di Timur Tengah.

Kapolri juga menyampaikan bahwa ia akan menginstruksikan jajarannya untuk bersilaturahim dengan perwakilan Persis yang ada di seluruh Indonesia.

“Saya akan perintahkan kepada jajaran kepolisian untuk bergandengan tangan, bersilaturahim dengan seluruh jajaran Persis dimanapun berada,” kata Tito, disambut pekik Takbir dari seluruh kader Persis.

Tito menuturkan, Persis adalah salah satu organisasi Islam tertua di Indonesia. Pendiri Persis, Haji Zamzam, juga merupakan putra Palembang, sama dengan dirinya.

“Persis berdiri sejak tahun 1923, tetap eksis selama 90 tahun lebih. Persis adalah organisasi Islam yang besar, dan memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa Indonesia,” kata Tito.

Persis Mencintai NKRI

Ketua Umum Persis KH Aceng Zakaria dalam pidatonya mengatakan, kelahiran Indonesia hingga masa kemerdekaan tidak lepas dari perjalanan Persis. Karena itu, bagi Persis, sudah suatu kewajiban untuk menjaga kesatuan dan persatuan Indonesia.

“Bagi Persis mempertahankan NKRI bukan fanatisme, tapi bentuk ijtihad (usaha) yang diwariskan para pendahulunya. Berjuang dan membela NKRI adalah kewajiban historis,” tegas Aceng.

Aceng juga menuturkan, Persis menolak aliran Islam ekstrem yang pada akhirnya melahirkan aksi-aksi teror. Persis juga siap bekerjasama dengan siapapun, yang mendukung dakwah yang memperkuat persatuan dan kesatuan.

“Tidak perlu takut, tidak perlu Islamphobia dengan Persis, kami ini Persis bukan ISIS,” ujarnya disambut teriakan Takbir berulang kali.

Lebih jauh Aceng merasa bersyukur, selama ini belum ada kader yang mencoreng nama baik Persis karena korupsi. Padahal, banyak kader Persis yang menduduki posisi strategis di negeri ini.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa (Hima) Persis, Nizar Ahmad Saputra. Menurutnya, kecintaan Persis terhadap Indonesia sudah ada sebelum Republik Indonesia resmi merdeka.

“Persis adalah yang dari awal menyatakan cinta Indonesia. Maka barang siapa pertanyakan kecintaan Persis terhadap Indonesia, adalah orang yang buta sejarah,” kata Nizar.

Sementara itu, Ketua Himpunan Mahasiswi (Himi) Persis, Lida Maulida, mengatakan bahwa silaturahim yang digelar bukanlah aksi pamer massa. Silaturahim ini merupakan bukti seberapa besar Persis mencintai Islam, NKRI serta para Ulama.

“Kami adalah anak kandung bangsa ini, karena kami ini adalah cucu dan cicit para pejuang yang dulu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.

Sumber

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *