Kalemdiklat Polri Buka Forum Pimpinan Polisi Indonesia-Australia Masa Depan


Semarang— Kalemdiklat Polri Komjen Arief Sulistyanto mengatakan pentingnya menjaga komunikasi, bertukar informasi, dan pengalaman dengan kolega sesama polisi. Apalagi menghadapi kejahatan antar negara atau transnasional crime yang saat ini terus berkembang seiring dengan majunya teknologi komunikasi dan transportasi.

Hal ini dikatakan Arief dalam Opening Ceremony Australia Indonesia Police Leadership Forum (phase 2) yang diselenggarakan di JCLEC, Semarang Senin (29/7/2019). Turut hadir Direktur JCLEC Brig. General Nugroho S Wibowo, Commander Sharon Cowden selaku Manager Of South East Asia/International Operation AFP, Direktur Eksekutif Program JCLEC Superintendent Greg Davis dan peserta forum yang merupakan anggota polisi dari kedua negara.

“Forum kerjasama Polri dengan koleganya sesama penegak hukum antar negara adalah hal mutlak. Kemarin sudah bertemu di Sydney dan hari ini ganti di gelar di Indonesia. Waktu saya masih menjabat asisten SDM saya meng-create forum semacam, ada ajang bagi calon pimpinan Polri dan AFP di masa depan. Saling tukar informasi dan pengalaman sehingga saat berada di pucuk pimpinan masing-masing hubungan baik sudah terjalin,” kata Arief.

Dari Polri acara ini diikuti oleh Brigjen Wahyu Widada, Brigjen Tornagogo Sihombing, Kombes Tubagus Ade Hidayat, Kombes Roy Siahaan, Kombes Rizal Irawan, Kombes DJ De Fretes, Kombes Untung Widiatmoko, Kombes Agus Santoso, Kombes Jamaludin, dan AKBP Wulandari. Sedangkan dari AFP, diantaranya, ada Simon Andrew Penny, Heath Garraway Davies, dan Matthew Jhon Gale.

”Jangan hanya melihat dalam skala hari ini tapi tiap hari permasalahan kepolisian semakin kompleks. Jadi ini, lebih jauh, bukan hanya soal membahas transnational crimes tapi ini juga kesempatan mengasah leadership. Kejahatan trans national sendiri terus berkembang mulai dari terorisme, ilicit drug, human traficking, dan kejahatan lainnya”
Lurainya.

Semasa menjabat Direktur Ekonomi Khusus Bareskrim, Arief menceritakan jika soal pendanaan terorisme menjadi hal yang menjadi perhatiannya. Terorisme bisa berjalan karena ada funding yang berasal dari dalam dan luar negeri. Makanya menjadi mutlak untuk bekerja bersama dengan penegak hukum mitra.

“Pun dengan narkotika dan penyelundupan manusia. Juga kasus korupsi yang masih menjadi momok di Indonesia. Memang betul kejadian korupsinya di Indonesia tapi uang hasil kejahatannya dilarikan ke luar negeri. Ini jadi masalah untuk bisa mengembalikan kejahatan itu ke Indonesia. Itu juga saya alami dalam kasus Bank Century misalnya,” tambahnya.

Sedangkan manager of south east Asia AFP commander Sharon Cowden menambahkan, “Kita berkumpul disini dengan maksud sebagai bagian perkenalan dari pimpinan Polri dan AFP di masa depan. Saat ini kita sudah bekerja di berbagai level dan di jabatan masing-masing. Inilah perlunya bertemu untuk berbagi pengalaman, serta mendapat angle berbeda dari sahabat.”

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *