Buku Rahasia Pasukan Asmaul Husna 212 Diluncurkan

ombes Pol Arif Rachman (tengah) bersama bersama Pendiri ESQ 165, Ary Ginanjar Agustian dan Letjen TNI (Purn) Muhammad Yasin, saat peluncuran buku Rahasia Pasukan Asmaul Husna 212 di Jakarta, Sabtu (4/11).

Jakarta – Pengalaman pasukan polisi dalam melakukan pengamanan Aksi Bela Islam II pada 4 November 2016, dijadikan sebuah buku dengan judul Rahasia Pasukan Asmaul Husna 212.

Buku yang mengangkat kisah pasukan yang dipimpin oleh Kombes Arif Rachman dalam menjaga unjuk rasa yang dikenal dengan sebutan Aksi 411 ini, resmi diluncurkan di Jakarta, Sabtu (4/11).

“Saya sangat bersyukur, buku ini akhirnya selesai. Niat saya hanya syiar agar polisi semakin dicintai oleh masyarakat,” kata Arif saat memberikan sambutan.

Buku Rahasia Pasukan Asmaul Husna sendiri, lanjut Arif, memaparkan keseluruhan proses dan rahasia di balik terbentuknya Pasukan Asmaul Husna. Tujuan utama pembuatan buku ini, jelasnya, dalam rangka menyampaikan kebaikan. Terlebih, dalam setiap pelaksanaan tugas kepolisian, tentunya terdapat metode penanganan yang efektif.

“Pembentukan pasukan Asmaul Husna lebih kepada langkah persuasif. Pasukan ini, merupakan salah satu bentuk pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam konteks menyampaikan pendapat di muka umum,” jelasnya.

Pria yang sekarang menjabat sebagai Kapolres Bandara Soekarno-Hatta ini menjelaskan alasan peluncuran buku ini bertepatan dengan setahun Aksi 411. “Saat aksi itu pula, pasukan Asmaul Husna ini mulai bertugas,” tambahnya.

Kiprah pasukan ini, lanjut Arif, berlanjut dalam mengawal jutaan umat Islam dalam Aksi Bela Islam jilid III pada 2 Desember 2016, atau dikenal dengan Aksi 212.

“Aksi unjuk rasa jutaan umat yang berlangsung aman dan damai itu bisa menjadi inspirasi. Seluruh dunia mengetahui, bahwa aksi damai itu monumental. Hal itu yang kita abadikan sebagai legacy, khususnya bagi masyarakat dan juga institusi Polri, dalam meminimalisir dampak sosial yang muncul dari sebuah aksi yang sedemikian besar,” pungkasnya.

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Margarito dan Johnson Panjaiatan Tegaskan KPK Harus Dibersihkan

Pakar hukum tata negara Margarito Kamis mendukung keputusan Direktur Penyidikan KPK Brigjen (Pol) Aris Budiman melaporkan penghinaan yang dilakukan Novel Baswedan melalui e-mail yang juga ditembuskan ke beberapa pimpinan KPK. Hal ini disampaikan Margarito saat tampil di ILC (Indonesia Lawyers Club) TV One, Selasa (5/9/2017), di Jakarta.
Apa yang dilakukan Aris sendiri setelah mendapat penghinaan tersebut adalah melaporkan hal itu ke pengawas internal KPK. Margarito bahkan menilainya tak perlu lagi.
“Yang membedakan manusia dengan kerbau, sapi, dan kambing adalah harga diri. Kalau saya jadi Aris, maka saya sampahkan aturan internal itu. Saya akan langsung laporkan itu ke polisi,” kata Margarito.
Sementara Johnson Panjaitan, pengacara korban yang ditembak Novel Baswedan di Bengkulu, langsung mengungkap bagaimana kasusnya dihentikan begitu saja. “Masa saya sudah menang di praperadilan, bahkan tanggal sidangnya sudah ditentukan, tapi tak jadi sidang. Apa seperti ini negara kita dikelola,” kata Johnson.
Dalam unggahan video di youtube atas acara tersebut, khususnya yang menyangkut pernyataan Margarito ini sudah mendapatkan 12 likes dan empat unlikes. Sementara video tersebut juga sudah ditonton oleh 3457 warganet hingga Rabu (6/9/2017) pagi.

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Peneror Novel Belum Terungkap, Polisi: Hanya Masalah Waktu

Pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan masih misteri. Sudah lebih dari 200 hari, polisi belum dapat mengungkap pelakunya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menegaskan pihaknya masih terus melakukan upaya penyelidikan guna mengungkap siapa di balik teror tersebut.

“Hanya masalah waktu saja,” kata Argo kepada detikcom saat ditemui di ruangannya, Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (3/11/2017).

Ia katakan, pengungkapan kasus memiliki karakteristik berbeda-beda. Kecepatan penyidik dalam mengungkap kasus tergantung tingkat kesulitannya.

“Ada kasus yang cepat diungkap dan ada yang lamban, karena tingkat kesulitannya beda,” lanjut Argo.

Argo mencontohkan, kasus pengeboman Kedutaan Besar Indonesia di Paris, Prancis yang terjadi pada tahun 2004 dan 2012 silam. Meski kantor kedutaan tersebut memiliki CCTV yang bisa memberikan petunjuk, namun pelakunya hingga kini belum terungkap.

“Itu kasus Kedubes Indonesia di Paris dua kali dibom belum juga terungkap, padahal mereka sudah sangat serius dan sistem CCTV mereka bagus,” imbuh Argo.

Argo menyampaikan, Polda Metro Jaya sangat serius untuk mengungkap kasus ini. Ia juga meyakinkan kepolisian terus bekerja untuk mengungkap kasus tersebut.

“Penyidik masih terus bekerja mengumpulkan bukti-bukti untuk menangkap siapa pelakunya,” kata Argo.

Sumber

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Wakil Presiden JK Mengklaim Anies Sepakat Lanjutkan Proyek Reklamasi

Jakarta : Wakil Presiden Jusuf Kalla mengisyaratkan, bahwa proyek reklamasi di Teluk Jakarta bakal dilanjutkan. Menurut JK – sapaan Jusuf Kalla, kelanjutan proyek itu hanya meneruskan pembangunan dari pulau yang sudah terlanjur diuruk.

Karena bila pulau reklamasi nantinya akan dibongkar, sama saja mengurangi nilai manfaat dan terbengkalai tanpa kegunaan apa pun.

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Obsesi Kapolri Jendral Tito Karavian Jadi Pengajar dan Peneliti

Jakarta : Kapolri Jenderal Muhammad Tito Karnavian resmi dikukuhkan menjadi Profesor di bidang ilmu Kepolisian studi strategis kajian kontra terorisme di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK)pada tanggal 26 Oktober kemarin yang bersamaan dengan Ulang Tahun Pak Tito.

 

Pak Tito mengatakan, jika nanti sudah pensiun dari Kepolisian Republik Indonesia, berencana menjadi pengajar di luar negeri maupun di dalam negeri.

Jabatan guru besar di bidang ilmu Kepolisian studi strategis kajian kontra terorisme ini, lanjut Tito, sengaja dipersiapkan oleh dirinya.

 

“Siap-siap kalau sudah pensiun. Karena saya suka di bidang pendidikan, enggak perlu lari ke sana ke mari. Saya bisa jadi pengajar baik di dalam negeri, dan lebih utama saya obsesinya jadi pengajar di luar negeri, jadi peneliti di luar negeri. Karena supaya saya memiliki jangkauan global, tidak hanya sekadar jangkauan di dalam negeri saja,” kata Tito di Auditorium STIK-PTIK, Jakarta Selatan, Kamis 26 Oktober 2017.

 

Pak Tito sudah mempersiapkan persyaratan sejak lama agar bisa memiliki gelar guru besar. Di antara persiapan itu, Tito sering menulis buku dan jurnal internasional, yang diterbitkan oleh penerbit nasional maupun penerbit terkemuka di dunia.

 

Pak Tito juga aktif mengikuti seminar, konferensi di tingkat Internasional maupun nasional. Selain itu, dia sudah sering menjadi pembicara, memberi keynote speech, serta kuliah umum di dalam maupun luar negeri. Pengalaman empirik bertugas di bidang penanganan teroris sejak tahun 1999 itu menjadi nilai tambah bagi Profesor Tito.

 

“Sejak 2000 saya sudah ngajar di PTIK, UI, Nanyang Technological University (di Singapura). Tetapi ini juga berdasarkan pengalaman empirik saya, karena saya bertugas di bidang teroris sejak 99. Selain itu saya ikut sekolah formal dan kursus mulai di Amerika, Inggris, Australia, Singapura dan studi banding di banyak negara,” ujarnya.

 

Tito merasa dunia pendidikan atau dunia akademis membuatnya lebih tenang dan bisa mengatur ritmenya sendiri, sehingga hobi itu bisa tersalurkan.

 

“Keinginan saya obsesi saya jadi pengajar di tingkat internasional karena kebetulan saya di bidang terorisme ini adalah akademisi sekaligus praktisi. Jadi saya pikir saya memiliki pengalaman, pengetahuan sistematis dari keakademisan, tapi juga memiliki pengetahuan di bidang empirik, itu berdasarkan pengalaman,” ucapnya.

 

 

 

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube
1 34 35 36 37