Arahan Kalemdiklat Polri Kepada Mahasiswa STIK-PTIK: “Pemimpin Harus Jadi Driver, Bukan Hanya Jadi Penumpang Saja”

 


Jakarta—Kalemdiklat Polri Komjen Arief Sulistyanto mengibaratkan jabatannya seperti tukang jahit yang mendapatkan bahan dari Asisten SDM Kapolri. Bahan itulah yang dibentuk sesuai dengan tujuan tergantung pesanan dari SDM. 

Jahitan itu tidak boleh salah karena masalah pendidikan berpengaruh pada organisasi kepolisian yang sangat besar.

Hal itu disampaikan Arief saat memberikan arahan pada mahasiswa STIK-PTIK angkatan 77 tahun 2019 di Gedung PTIK, Jaksel, Senin (6/5/2019). STIK-PTIK adalah jenjang pendidikan lulusan Akpol untuk bisa meningkatkan karier.

Kalau seorang lulusan Akpol tidak masuk PTIK dia harus ikut Sespimma dan kalau tidak ikut keduanya maka pangkatnya mentok di Kompol/AKBP.

“Sistem personalia dan SSDM Polri harus berada pada satu sistem, silahkan jadi kajian para mahasiswa STIK dalam skripsi. Tapi jangan membuat skripsi yang plagiat dari skripsi sebelumnya.  Contoh ada skripsi penyidikan pencurian kendaraan bermotor di Polres Gresik, lalu diubah menjadi penyidikan pencuriaan kendaraan bermotor di Polres Subang. Semua isinya diplagiat, tempatnya saja diubah,” kata Arief dalam keterangan tertulisnya.

“Salah jahit” itu termasuk saat sarjana STIK sampai hati melakukan plagiat karena hanya berpikir yang penting selesai dan dapat gelar Sarjana Ilmu Kepolisian  (SIK). Bukan ilmu dan pendidikan yang jadi oerintasi.

Arief berharap jangan ada yang menjadi perwira sarjana lulusan STIK yang abal-abal atau kaleng-kaleng. Jangan menganggap remeh dan harus sesuai dengan aturan.

”Kalemdiklat sedang membenahi dan merevitalisasi pendidikan Polri dari pendidikan pembentukan, pendidikan spesialisasi, sampai pendidikan pengembangan umum baik pertama, menengah dan tinggi. Semua dibenahi mulai dari kurikulum karena saya ingin hasil didik yang dilaksanakan oleh Lemdiklat Polri tidak kalah dengan pendidikan lain. Jangan sampai pendidikan dan pelatihan Polri hanya sebagai formalitas saja, ini berbahaya untuk pendidikan Polri ke depan,” tekan Arief.

Untuk itu perlu menanamkan integritas dengan menghasilkan anggota Polri yang promoter melalui pengelolaan SDM melalui aspek penanaman nilai-nilai etika profesi, indoktrinasi doktrin-doktri Polri berupa Tribrata dan Catur Prasetya, dan enkulturasi budaya-budaya Polri atau budaya profesionalitas Polri.

”Polisi sekarang pengennya seperti artis-artis dan ikut-ikut perkembangan jaman. Bukan sekadar modernity yang  diinginkan, tapi seharusnya cara berpikir dan berprilaku yang modern. Integritas merupakan barang yang mahal. Jangan berpikir bagaimana masuk (STIK-PTIK) saja dan tidak berkompetisi secara sehat, terutama dalam menggunakan jalur sponsorhip, karena tidak semua orang mempunyai kemampuan,” sambungnya,

Konspirasi pada sistem harus dihilangkan. Mau jadi apa polisi ke depan kalau tidak ada perubahan. Banyak resiko dalam melakukan perubahan, seperti tidak disukai orang karena menjadi pemimpin harus siap tidak disukai orang karena wajib menjalankan sistem dengan benar dan harus berani melakukan perubahan. Jangan kita menjadi penumpang saja yang ikut driver, tetapi kita harus jadi driver.

”Ini perlu keberanian dan kecerdasan, serta harus dilakukan dari sekarang. Jangan berpikir nanti saja lah, saat saya jadi pemimpin. Harus diingat pendidikan adalah proses untuk menjadi pemimpin dan pemimpin adalah sebuah proses bukan dari suatu yang instan. Tradisi menyimpang jangan dipertahankan” pesannya.

Arief tak lupa memompa para siswa STIK-PTIK jika di pundak mereka lah masa depan Polri digantungkan. Jangan mengandalkan “jin” untuk dapat posisi dan dapat sekolah. Mau buat karya tulis pakai “jin”, nyontek sana sini. Membentuk senat namun yang dibicarakan bagaimana mengatasi beban dengan “sajen-sajen” bahas urunan agar lancar.

”Tanamkan, biarkan orang lain tidak berubah, tapi diri saya harus berubah, menjadi agen perubahan perlu keberanian dan strategi. Ini membangun diri atau branding. Saya membentuk tim Gugus Tugas Penjamin Mutu (GPM) dan Monitoring dan Evaluasi (Monev). Siap-siap jika nilai kalian keluar nanti, tim GPM akan uji petik, untuk melihat apakah nilai yang diperoleh layak sesuai kemampuan, nanti akan uji petik diambil ranking 5 di atas, 5 di tengah dan 5 di bawah. Jika tidak sesuai akan ujian ulang. jika tidak ditemukan penyimpangan belajar lagi,” sambungnya.

Share Button
Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutube

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *